Jalan-jalan

Andorra, Korban dari Turisme...

Kompas.com - 18/04/2011, 10:05 WIB

ENTAH karena keampuhan kalimat provokatif di buku Lonely Planet: Spain atau karena benar-benar memesona, tiap tahun ada 10 juta turis mendatangi Andorra, salah satu negara terkecil di dunia. Sekadar membandingkan, Indonesia ”hanya” kedatangan sekitar 7 juta turis asing per tahun.

A warning though: it may not be the same a few years from now. Greed and uncontrolled development risk spoiling the side valleys. In the last five years, its resort have invested over 50 milion euros in mountain cafes and restaurants, chair lifts and gondolas, car parks and snowmaking machines.

(Sebuah peringatan: (Andorra) mungkin tak sama lagi dalam beberapa tahun mendatang. Sifat rakus dan pembangunan yang tak terkontrol akan merusak lembah-lembah di sana. Lima tahun terakhir, ada investasi 50 juta euro untuk penginapan, kafe, warung makan, gondola, dan lapangan parkir mobil.)

Itulah kalimat provokatif dalam buku Lonely Planet: Spain di halaman 396 tentang Andorra. Kalimat pengantar tentang Andorra itu seolah ingin menyatakan, bila Anda tidak mengunjungi Andorra saat ini juga, Anda akan menyesal. Keelokan Andorra takkan pernah lagi bisa dinikmati.

Februari 2011, saya berkesempatan menyambangi Pas de la Casa—kawasan wisata ski paling timur di Andorra. Ditemani beberapa rekan dari AirAsia Indonesia, kami menaiki bus yang disewa dari kota Toulouse di Perancis selatan, markas produsen pesawat Airbus.

Berkendara dari Toulouse ke Pas de la Casa yang berjarak 186 kilometer—setara dengan jarak Jakarta-Bandung—butuh waktu lebih dari tiga jam. Dua kota itu sebenarnya dihubungkan oleh jalan aspal mulus, tetapi kepadatan lalu lintas saat akhir pekan cukup menghambat.

Sepertiga perjalanan, menjelang batas Perancis-Andorra, kami bagaikan merayap di lembah, lantas mendaki punggung ngarai menuju puncaknya. Gunung-gunung batu dengan salju menyelimuti puncaknya tampak di sana-sini. Di beberapa tempat tampak pohon pinus dan pohon empat musim lainnya menyembul.

Pemandangan ini sangat menggairahkan. Terutama buat kami dari negara dua musim. Bagi orang Indonesia, yang untuk melihat salju saja harus mendaki Puncak Jayawijaya di Papua, pemandangan di Andorra begitu eksotik dan menggairahkan.

Andorra memang ”menjual” alamnya. Sekitar 80 persen dari pendapatan domestik bruto Andorra bersumber dari pariwisata. Ada sedikit porsi pendapatan lain, yakni dari perkebunan tembakau. Meski hanya mengandalkan pariwisata, hebatnya pendapatan per kapita penduduknya mencapai 34.240 dollar AS. Angka pengangguran nol persen!

Pariwisata Andorra sebenarnya baru tumbuh pada pertengahan abad lalu, ketika infrastruktur dan transportasi dibangun. Sebelumnya, berabad-abad silam, Andorra identik dengan keterisolasian dengan mata pencarian penduduk yang bergantung pada hasil hutan. Negara berpenduduk sekitar 90.000 jiwa ini pun nyaris selalu netral dalam peristiwa perang dunia.

Didirikan pada tahun 1278 (bertepatan dengan masa kejayaan Singasari di bawah Raja Kertanegara), Andorra diperintah oleh ”kongsian” antara presiden dari Republik Perancis dan Uskup Catalonia-Spanyol, dengan pemerintahan sehari-hari di tangan seorang perdana menteri.

Bahasa resmi Andorra adalah Catalan, meski para penduduknya lumayan cakap berbahasa Spanyol, Portugis, dan Perancis. Bahasa Inggris hanya dikuasai kaum muda.

Buku Lonely Planet pun memberikan beberapa terjemahan dari bahasa Catalan. Perill: Zona Voladures artinya ’hati-hati, ada rontokan batu (dari atas gunung)’, lantas Calguda de Neu yang artinya ’hati-hati ada longsoran salju dari atas’.

Belanja

Pas de la Casa sebenarnya resor ski terbesar di Andorra. Namun, jika Anda tak bisa main ski, Pas de la Casa tetap menarik. Berbelanjalah! Sepanjang Jalan Carrer Major, Avinguda D’Encamp, Carrer de les Abelles, dan Carrer de Sant Jordi, misalnya, disesaki toko-toko. Umumnya toko pakaian, meski di kawasan itu teman saya juga menemukan helm Harley Davidson seharga Rp 2 juta. ”Murah banget dibanding di Indonesia,” katanya.

Ada minimarket di pojokan Jalan Carrer Bernat III dan Carrer Comtes de Foix yang menjual berbagai minuman keras dan rokok. Namun, ada aturan bea cukai setempat, pembelian maksimal hanya boleh 5 liter anggur. Lebih dari itu dianggap penyelundup sebab harga barang di Andorra tak dikenai pajak. Efek membawa barang dalam jumlah banyak keluar dari Andorra dinilai dapat mengganggu stabilitas perdagangan di Eropa.

Produk yang mencolok mata adalah pistol-pistolan atau softgun dengan berbagai tipe, mulai dari pistol, Uzi, hingga AK-47, dengan harga hingga ratusan euro. Yang juga tampak aneh adalah keberadaan toko-toko pakaian dalam (lingerie) dengan desain dan warna yang ”berani” sebab Pas de la Casa jauh dari pantai, dengan suhu maksimal 20 derajat celsius pada bulan Juni-September.

Ski

”Jualan” utama Pas de la Casa pastinya ski. Lokasi utama ada di sisi kanan Jalan Avinguda D’Encamp, yakni Grandvalira Ski Resort. Tersedia lift ski untuk naik hingga ke puncak gunung, kemudian menuruni bukit, downhill, dengan ski-gear atau snowboard.

Saat terbaik untuk ski berlangsung mulai Desember hingga April. Tak mahir? Di Andorra bertebaran sekolah ski dengan tarif 35 euro per jam, dengan guru privat, atau berkelompok dengan tarif 71-101 euro per jam.

Peralatan ski dapat disewa seharga 53,9 euro (untuk alat ski dan sepatu ski) atau 66,5 euro (untuk snowboard dan sepatu ski). Durasi sewa adalah satu hari jika Anda kuat dengan udara dingin, tentunya.

Hati-hati bermain dengan salju. Air yang beku itu tak selalu identik dengan kelembutan kapas meski sama-sama berwarna putih. Terasa menyakitkan bila terjatuh di salju keras, entah karena terpeleset atau ditarik pemain ski amatir lain.

Aktivitas yang tak kalah asyiknya adalah berjalan kaki melintasi Pegunungan Pirenea. Bulan Juni hingga September, saat temperatur mencapai 20 derajat celsius pada siang hari, merupakan saat-saat terbaik. Sebab, pada malam hari suhu ”hanya” drop hingga 10 derajat celsius.

Lima puluh danau di ketinggian Andorra, di balik puncak dan lembah gunung, seolah merayu untuk menjejakkan kaki di sana. Pejalan kaki dapat bermalam dengan gratis di 26 pondok di puncak-puncak gunung di seluruh Andorra.

Itulah Andorra, silakan terbang ke sana sebelum pemanasan global mencairkan salju-salju, dan Pegunungan Pirenea yang berketinggian sekitar 2.000 meter menjadi sekadar onggokan bebatuan abu-abu.

Juga sebelum Andorra menjadi tak terkendali dan disesaki ”warung-warung” yang menghalangi pemandangan, tak ubahnya ketika Anda sedang berada di kawasan Puncak Pass.... (Haryo Damardono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau